French Paradox: Rahasia Pola Makan Agar Jantung Tetap Sehat

Sebelum ditemukannya antibiotik, kasus kematian global didominasi akibat penyakit menular.

Namun, di era modern seperti sekarang, kematian justru lebih banyak terjadi akibat penyakit tidak menular.

Menurut WHO tahun 2019, sebanyak 44% kematian global disebabkan oleh penyakit tidak menular.

Yang lebih mengejutkan, ternyata penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stoke menempati peringkat pertama dan kedua sebagai penyakit "pembunuh" terbesar di dunia!

Padahal, penyakit tidak menular dapat dicegah dengan menerapkan pedoman gizi seimbang dan gaya hidup sehat.

Namun, ternyata ada lho kasus yang mana suatu populasi tetap sehat meskipun pola makannya "terkesan" tidak sehat.

Namanya French Paradox.

Mengenal French Paradox

Sesuai namanya, French Paradox pertama kali teramati pada masyarakat Perancis di tahun 1980-an.

Pola makan orang Perancis sangat akrab dengan berbagai produk hewani seperti susu, butter, keju, dan cream, yang notabenenya tinggi kandungan lemak jenuh dan kolesterol.

Seharusnya, konsumsi lemak jenuh dan kolesterol berbanding lurus dengan risiko penyakit kardiovaskular.

Namun anehnya, kasus kematian akibat penyakit kardiovaskular di Perancis sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya di benua biru.

Sebagai perbandingan, dari 100.000 pria berusia 55-64 tahun, Finlandia mencatat 1.031 kasus kematian, sedangkan Perancis hanya 198 kasus kematian.

Angkanya lima kali lipat lebih rendah!

Padahal, orang Finlandia mengonsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang jumlahnya sangat menyerupai orang Perancis.

"Apa sebenarnya rahasia yang disembunyikan orang Perancis?" {alertWarning}

Usut punya usut, orang Perancis memiliki budaya mengonsumsi red wine, suatu jenis minuman beralkohol yang terbuat dari fermentasi anggur khususnya anggur merah.

Well, mungkin negara Eropa lainnya juga suka red wine, tapi tidak "semaniak" orang Perancis.

Melalui berbagai studi, para peneliti menyimpulkan bahwa kebiasaan meminum red wine bisa saja membuat orang Perancis lebih "kebal" terhadap dampak buruk lemak jenuh dan kolesterol.

"Mengapa minuman beralkohol dapat menangkis efek jahat dari lemak jenuh dan kolesterol?" {alertWarning}

Sayang sekali, bukan minuman beralkohol.

Buktinya, minuman beralkohol lain seperti bir dan spirits tidak menunjukkan efek seperti red wine.

"Lantas, mengapa red wine?" {alertWarning}

Sebenarnya, bukan sebatas red wine.

Khasiat utamanya justru terletak pada buah anggur, khususnya buah anggur merah.

Komponen terbesar dari buah anggur adalah air dan gula. Anggur juga mengandung lebih dari 500 senyawa, salah satunya adalah golongan polifenol.

Buah anggur merah mengandung polifenol dalam jumlah yang tinggi, mencapai 0,2%. Pada buah anggur putih, kandungan polifenol "hanya" sebesar 0,01%.

Tidak hanya memberikan warna makanan yang indah, senyawa polifenol juga bermanfaat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular melalui beberapa kemungkinan mekanisme:

  • Meningkatkan konsentrasi high-density lipoprotein (HDL)
  • Mencegah pembentukan radikal bebas dan mengikat yang sudah ada
  • Menurunkan agregasi trombosit yang bisa menyumbat pembuluh darah
  • Menghasilkan efek antiinflamasi dan antioksidan
  • Menurunkan tekanan darah

4 Pelajaran Berharga dan Tips Aplikatif

French Paradox Bukan Sebatas Red Wine

Sebagaimana yang sudah kita bahas bersama, French Paradox sebenarnya muncul karena kandungan polifenol pada buah anggur.

Artinya, French Paradox tidak bisa diterjemahkan sesempit mengonsumsi red wine, apalagi minuman alkohol.

Lebih luas dari itu, French Paradox sebenarnya berbicara tentang pola makan yang kaya polifenol.

Kebetulan saja fenomena tersebut pertama kali teramati pada masyarakat Perancis yang suka melakukan fermentasi anggur menjadi red wine.

Budaya fermentasi tersebut pada awalnya muncul karena ingin mengawetkan dan meningkatkan umur simpan.

Dengan Adanya French Paradox, Bukan Berarti Tidak Perlu Menjaga Pola Makan

Meskipun konsumsi cukup dan rutin polifenol terbukti dapat menetralisir dampak buruk dari lemak jenuh dan kolesterol, bukan berarti kita tidak perlu mengontrol apa yang masuk ke mulut.

Bagaimana pun, asupan kalori (terutama yang berasal dari lemak) tetap harus dikendalikan agar tidak berujung pada obesitas.

Sebagaimana kita tahu, obesitas adalah faktor risiko dari berbagai penyakit metabolik seperti resistensi insulin, diabetes mellitus tipe-2, penyakit kardiovaskular, serta penyakit hati berlemak tanpa konsumsi alkohol (NAFLD).

Jadi, boleh banget makan banyak polifenol. Namun, tetap kendalikan pola makan ya!

Efek Polifenol Red Wine Tidak Lebih Baik dari Sayur dan Buah

Menurut studi in vivo, pola makan dengan buah dan sayur tanpa red wine mampu memberikan katekin (polifenol) yang jumlahnya empat kali lebih besar ketimbang yang hanya mengandalkan red wine tanpa buah dan sayur.

Artinya, kita tidak harus rutin mengonsumsi anggur merah seperti orang Perancis untuk mendapatkan manfaat polifenol.

Masih banyak kok jenis pangan lainnya yang kaya akan polifenol, seperti aneka ragam buah dan sayur, kacang, kopi, teh, dan coklat.

Cobalah konsumsi berbagai sumber polifenol tersebut sebagai whole foods, yaitu dalam kondisi utuh tanpa membuang bagian yang bisa dimakan.

Misalnya pada buah yang kulitnya berwarna cerah seperti anggur dan apel, polifenol justru lebih banyak terkandung pada kulitnya, bukan daging buah.

Jika memang lumrah, alangkah baiknya bagian tersebut ikut dimakan. Tapi kalau tidak lumrah, jangan dipaksakan.

Konsistensi, Bukan Intensitas

"... You can't produce a baby in one month by getting nine women pregnant." - Warren Buffett. {alertSuccess}

Penelitian juga menyimpulkan bahwa French Paradox didapatkan bukan hanya karena intensitas, melainkan konsistensi.

Orang Perancis mengonsumsi red wine dalam jumlah yang tidak begitu banyak, namun sangat rutin. Akibatnya, tekanan darah mereka cenderung stabil sepanjang pekan.

Hal tersebut sangat kontras dengan masyarakat Eropa lainnya, seperti Irlandia Utara, yang menjadikan red wine sebatas "pelampiasan".

Mereka cenderung minum hanya pada akhir pekan, namun dalam jumlah banyak.

Akibatnya, tekanan darah mereka melonjak tinggi di hari Senin dan Selasa. Maka tak aneh, kasus serangan jantung di Irlandia Utara paling banyak terjadi pada kedua hari itu.

Dari cerita sederhana ini kita belajar bahwa konsistensi sangatlah fundamental. Pola makan sesehat apapun tidak akan berhasil tanpa konsistensi.

Intensitas juga penting, namun pada jumlah yang wajar. Pada beberapa kasus, seperti red wine, lonjakan intensitas yang berlebihan justru malah berbahaya.

Penutup...

French Paradox pertama kali teramati pada masyarakat Perancis yang gemar meminum red wine.

Saat ini telah diketahui penyebabnya adalah kandungan polifenol, sehingga manfaat kesehatan tersebut juga bisa diperoleh dari sumber polifenol lain seperti buah, sayur, kopi, teh, dan coklat.

Pola makan yang kaya akan polifenol, terbukti bermanfaat untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke.

Agar semakin optimal, kombinasikan dengan pola makan rendah lemak jenuh dan kolesterol, serta aktivitas fisik rutin. 

Referensi {alertSuccess}

Ellison RC, 2011, The French Paradox: 20 Years Later, Journal of Wine Research , 22(2): 105-108.

Ferrières J, 2004, The French paradox: lessons for other countries, Heart, 90(1): 107–111.

Lippi G et al, 2010, Red wine and cardiovascular health the "French Paradox" revisited. International Journal of Wine Research, 2:1-7.

WHO, 2020, The top 10 causes of death.

Sumber Gambar Ilustrasi: Unsplash

Yusuf Noer Arifin

Sarjana teknologi pangan yang menulis tentang pangan, gizi, dan pola hidup sehat. Telah aktif menggeluti dunia blogging sejak tahun 2014.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak